Titrasi Khusus Yang Menggunakan Dua Indikator

Basa lemah diprotik atau asam lemah diprotik jika masing-masing kita titrasi dengan asam kuat atau basa kuat maka kita akan memiliki bentuk kurva yang unik. Sebagai salah satu contoh dari titrasi jenis khusus ini adalah larutan Na2CO3 yang dititrasi dengan larutan HCl. Reaksi secara keseluruhan adalah sebagai berikut:

reaksi antara na2co3 dengan hcl

Jika kamu punya dua larutan tersebut dalam konsentrasi yang sama maka tentu saja kamu bisa menduga jika volume HCl yang dibutuhkan adalah dua kali volume larutan N2CO3 disebabkan sesuai dengan reaksi diatas perbandingan antara Na2CO3 dan HCl adalah 1:2.

Misalkan kita memiliki 25 mL larutan Na2CO3 1 M maka volume HCl yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekuivalen adalah 50 mL dan kurva titrasinya akan menurun drastis pada saat 50 mL HCl ditambahkan. Namun sayangnya untuk kasus seperti ini maka kurva titrasinya akan berupa gambar seeprti berikut:

kurva titrasi na2CO3 dan HCL

Kurva diatas lebih kompleks jika dibandingkan dengan kurva titrasi asam basa yang selama ini kita pelajari. Ada hal yang menarik yang bisa kita pelajari disini. Kamu mengkin menduga bahwa karbon dioksida akan segera terbentuk setelah Hcl di tambahkan, namun kenyataannya pada saat awal titrasi tidak ada karbon dioksida yang terbentuk, namun setelah titrasi mencapai separuh jalan barulah gas karbon dioksida dilepaskan. Inilah yang membuat titrasi antara Na2CO3 dan HCl memiliki dua titik ekuivalen.

Baca disini kurva titrasi asam basa

Dari grafik diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pada keadaan A, larutan natrium karbonat bereaksi dengan HCl membentuk garam natrium bikarbonat atau natrium hidrogen karbonat dengan reaksi sebagai berikut:

reaksi pertama dalam titrasi na2co3 vs hcl

seperti yang terlihat dari reaksi diatas tidak ada sama sekali gas karbondioksida yang dihasilkan, pada saat semua NaCO3 berubah menjadi NaHCO3 maka kita sebut sebagai keadaan setengah titrasi atau titrasi baru berjalan separuhnya. Disinilah titik ekuivalen pertama terjadi.

Pada titik B, penambahan HCl lebih lanjut akan menyebabkan NaHCO3 berubah menjadi H2CO3 yang terurai menjadi karbon dioksida dan air.

reaksi kedua pada tahap titrasi na2co3 vs hcl

Disinilah terjadi titik ekuivalen yang kedua. Dengan menghitung besarnya pH yang terjadi pada dua titik ekuivalen maka kita bisa memilih indikator yang sesuai. Biasanya untuk titrasi jenis ini indikator yang dipakai adalah fenoltalein untuk menentukan titik ekuivalen pertama dan metil jingga untuk menentukan titik ekuivalen kedua.

indikator pada titrasi na2co3 dan hcl

Indikator pp ditambahkan pertama pada larutan Na2CO3 dan setelah warnanya berubah dari merah muda menjadi tak berwarna barulah ke dalam erlenmeyer ditambahkan indikator metil orange dan larutan dalam erlenmeyer dipanaskan terlebih dulu untuk mempercepat keluarnya CO2 dari larutan sehingga mendorong reaksi menuju ke setimbangan ke arah kanan.

 

Titrasi asam diprotik dengan basa kuat
Contoh titrasinya adalah asam etanadinoat dengan NaOH. Asam etanadionatb memiliki dua ion H+ oleh sebab itu dua titik ekuivalen akan di dapatkan dari titrasi ini. Reaksi yang terjadi dan kurva titrasinya adalah sebagai berikut:

reakisi asam etanadionat dengan naoh
kurva titrasi asam diprotik dengan basa kuat

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *